Faktor dari Kepemimpinan

Beberapa bulan ini pengguna Telkomsel di wilayah Jawa Barat mengalami penurunan jumlah Pelanggan. Penurunan itu terjadi entah karena adanya serangan dari Competitor atau faktor lainnya. Saya yang berada di sisi Distributor kelimpungan menghadapi target yang diberikan Telkomsel. Untuk mengefektifkan penjualan kartu perdana maka melakukan pendekatan langusung ke End User (memotong rantai distribusi) dengan melakukan Hard Selling perdana aktif. Otomatis saya di pihak distributor harus semaksimalnya melakukan aktifasi kartu perdana.

Saya tidak pernah terlibat dalam melakukan aktifasi perdana yang dilakukan oleh Team SPG. Saya memberikan target untuk aktifasi perdana dalam beberapa hari ini. Karena saya ingin target yang saya berikan tercapai, maka saya mencoba ikut dalam Team SPG dalam melakukan aktifasi.

Disitu saya menemukan beberapa cara yang tidak efektif. Masing-masing SPG bekerja sendiri-sendiri. Saya berusaha membantu dengan cara membangun sebuah sistem agar semua pekerjaan yang dilakukan sendiri, dilakukan secara Team. Dan terbukti dengan kerja sama, target yang saya berikan ke Team SPG dapat dicapai.

Dari kejadian itu saya belajar bagaimana seorang pemimpin akan menemukan cara yang terbaik jika dia mau turun untuk mengetahui yang dikerjakan setiap bagian dari yang dipimpinnya. Dengan terlibat maka pemimpin dapat memberikan solusi yang tepat.

Dalam struktur oraganisasi atau perusahaan kita tahu bahwa pemimpin selalu berada di puncak. Itu menandakan bahwa pemimpin mempunyai tanggung jawab yang lebih. Dalam prakteknya, seorang pemimpin harus membalikan struktur itu menjadi seperti berikut :

Pemimpin terletak dibawah karena memang dia yang membantu Teamnya dalam mejalankan pekerjaannya. Pemimpin yang melayani Team untuk bekerja dengan sebuah sistem.

Ada beberapa factor yang harus dilihat oleh seorang pemimpin :

1. Leader

Seorang pemimpin harus memiliki pemahaman tentang Teamnya. Dia harus meyakinkan Teamnya, bukan diri sendiri atau orang lain bahwa dia harus diikuti.

2. Followers

Orang yang berbeda memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda. Sebagai contoh, Team baru membutuhkan pengawasan lebih dari seorang Team yang berpengalaman. Titik awal yang mendasar adalah memiliki pemahaman yang baik tentang sifat manusia, seperti kebutuhan, emosi, dan motivasi.

3. Communication

Pemimpin memimpin melalui komunikasi dua arah. Sebagian besar itu adalah nonverbal. Misalnya, ketika pemimpin “memberi contoh,” mengkomunikasikan itu kepada Team bahwa Pemimpin tidak akan meminta Team untuk melakukan apa pun yang Team tidak akan bersedia melakukan. Apa dan bagaimana pemimpin berkomunikasi baik membangun atau merusak hubungan antara pemimpin dan Teamnya.

4. Situation

Semua situasi berbeda. Apa yang pemimpin lakukan dalam satu situasi tidak akan selalu sama di tempat lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: