Kunjungan Pak Hasan Kurdi GM Sales Regional Jawa Barat di Posko Siaga Rest Area Banjar (Banjar Atas) #telkomsel #telkomselsiaga #siaga #ramadhan2015 #telesim #telesimjabar #telesimciamisutara

View on Path

at Banjar Atas Rest Area

See on Path

at Cilebut Residence

See on Path

Bahaya Tidak Kenal Diri Sendiri

Mita

Belum lama ini ada berita, seorang wanita muda yang berprofesi sebagai Copywriter di salah satu industri kreatif meninggal. Penyebabnya meninggal karena kadar gula dalam darahnya terlalu tinggi.

Kerjaan yang dikejar deadline membuat dia harus berusaha menyelesaikan dalam waktu yang cepat. Bergadang kurang lebih sebanyak 30 jam, serta banyak sekali konsumsi minuman berenergi menjadi pilihannya.

Berbagai situs media sosial membicarakan kasus ini. Banyak juga yang mulai memberikan komentar penyebab meninggalnya. Hampir semua orang berpendapat bahwa beliau meninggal dikarenakan bergadang. Ada juga yang berpendapat minuman berenergi itu yang menyebabkannya.

Saya berusaha melihat dari sudut pandang yang berbeda. Kebetulan saya sendiri suka bergadang saat pekerjaan dikejar deadline, dan saya sendiri suka mengkonsumsi minuman berenergi saat menyetir dinas ke luar kota.

Tidak mengenal diri sendiri mungkin yang sebenarnya membuat beliau meninggal. Pendapat saya terlihat sembarangan, tapi itu yang akan terjadi, jika seseorang tidak dapat mengukur kemampuan dalam dirinya.

Saya memang bukan dari industri kreatif, tapi (sekedar masukan) ada beberapa saran yang bisa saya sampaikan ke teman-teman mengalami hal serupa :

Mengukur Kapasitas Kerja

Maksudnya disini adalah kita harus bisa mengukur kemampuan dalam menerima job dari klien, terkejar atau tidak. Kita harus bisa mengatakan tidak (menolak) job. Uang untuk hidup, bukan hidup untuk uang.

Bentuk Super Team

Jika kita sebagai pekerja dan menerima tugas dari atasan, berusahalah bekerja dengan Smart Work not Hard Work. Maksudnya disini adalah jika memang kita punya staff, bebankan masing-masing pekerjaan kepada staff dengan bobot yang terbagi rata. Jika kita tidak punya staff, bentuklah staff eksternal untuk membantu kita, korbankan uang sedikit, bukan jiwa yang dikorbankan.

2 Hal ini yang selalu saya lakukan jika memang pekerjaan saya dikejar deadline.

Mudah-mudahan kita bisa belajar dari kasus yang dialami beliau.

Jangan Remehkan Sebuah Pengorbanan Sekecil Apapun

Kepala Ayam

Saat senja sepulang kerja seorang suami melihat isterinya yang tertidur pulas karena kelelahan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium kening isterinya dan bertanya, ‘Bunda, pasti lelah sekali ya sayang?’ Isterinya terbangun dan menjawab “iya maafkan aku Ayah… sampai-sampai aku tidak bias menyambutmu saat pulang”Isterinya beranjak dari tempat tidur mengambil piring yang tertutup, sore itu sang istri memasak makanan kesukaan suaminya.

‘Sayang..coba lihat apa yang aku buat untukmu..’ Piring itu dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya.

Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Isterinya bertanya, ‘Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku dan anak-anak paling tidak suka makankepala ayam.’ Suaminya menjawab, ‘Itulah sebabnya karena kalian tidak suka maka ayah suka makan kepala ayam supaya isteri dan anak-anakku mendapatkan bagian yang terenak.’

Mendengar jawaban sang suami, tiba tiba sang istri berderai air mata. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam. Tidak pernah terpikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus kecintaan suami terhadap dirinya dan anak-anak. ‘Terimakasih Ayah atas cinta dan kasih sayangmu selama ini.’ ucap sang isteri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda kebahagiaan hadir didalam dirinya.
Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kecil yang dilakukan oleh sosok Ayah kita, namun memiliki makna yang begitu besar, di dalamnya terdapat kasih sayang, cinta, pengorbanan dan tanggungjawab.

Semoga cerita diatas kita bisa mengambil hikmah dengan mencintai setulus hati ayah kita yang telah berkorban untuk anak dan isterinya.

Penulis : Noor

Keburukan Dibalas Dengan Kebaikan

Marah

Suatu hari, Nina dan Leli menghampiri sebuah toko bunga. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya cemberut dan seolah ,malas. Nina jelas jengkel menerima layanan seperti itu. Yang mengherankan, Leli tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu. Lalu Nina bertanya pada Leli, “Hei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”

Leli menjawab, “Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain.”

“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah Nina sambil emosi.

“Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu tidak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.”

Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.

Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.

“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.

Penulis : Noor

Ketika Aku Mulai Putus Asa

hopeless1

Kembali, aku disibukkan dengan berkas-berkas lamaran pekerjaan yg sengaja aku persiapkan untuk mencari perusahaan yang mau menerimaku sebagai pegawainya. Lagi-lagi harus ke jobfair, titip teman, atau door to door ke kantor-kantor yang belum tentu membuka lowongan . Dan jawaban yang sudah sangat membuat aku bosan adalah “Kami tidak bisa memastikan kapan, nanti anda akan kami hubungi melalui telepon atau sms untuk jadwal tes nya” atau “sebenarnya kami disini belum buka posisi yang bersangkutan, tapi simpan saja dulu lamarannya”. Hhh…bagiku semua masih klise. Tak jarang setelah aku mengikuti belasan interview,mereka berkata “kalau dalam 7 hari tidak ada telepon,berarti anda tidak lolos”

Beberapa kali aku pernah mengikuti serangkaian tes yang jelas-jelas sudah tersedia pemenangnya dari awal. Dan itu dia hasil rekomendasi dari “orang dalam”. Kadang sangat tak terima harus capek-capek datang dan bertanding,rasanya percuma. Mungkin iya aku hanya iri, dan tidak semua perusahaan juga seperti itu. Aku sendiri tak paham. Apa jangan-jangan ada yang salah dalam diriku pribadi. Selalu merasa layak mendapatkan posisi yang dituju,tapi tetap saja gagal. Sebenarnya aku tidak perlu merasa harus marah pada kebijakan pihak outsourching dan perusahaan yang seenak-enaknya memutuskan kontrakku dulu, tapi tetap saja hati tidak bisa terima. Ya..perusahaan yang telah membesarkan namaku, memberi fasilitas terbaik, tapi perusahaan itu juga yang menyingkirkan aku. Aku senang karna gajiku lebih dari cukup. Tapi aku harus tetap ingat bahwa uang itu tidak akan kembali padaku bulan ini dan dibulan-bulan selanjutnya jika hanya berputus asa tanpa ada usaha dan doa.

Sebenarnya,tak mutlak harus cari posisi untuk jadi karyawan. Masih banyak lapangan pekerjaan lain yang bisa dicoba. Ini langkahku sekarang.

Ini saatnya menatap kedepan. Kadang kita harus meminjam kata-kata seseorang untuk dijadikan motivasi. Sekarang aku harus menjadi manusia di atas rata – rata dan selalu unggul dan luar biasa. Aku tidak perlu untuk mengubah orang lain, tapi aku harus mulai merubah diriku untuk lebih baik dan menjadi yang terbaik. Tidak ada waktu bagi untuk berhenti belajar dan berintrospeksi diri. Aku harus terus – menerus untuk bertekad untuk mencapai kesadaran akan jati diriku yang sejati. Berubah dan berubahlah. Jangan takut berubah untuk kehidupan yang lebih baik, walau itu mengandung resiko.

Penulis : Noor